Wednesday, March 25, 2015

MIMPI DAERAH ISTIMEWA, MIMPI PROPINSI BARU

Sewaktu di-segregasi oleh Belanda ke Ende pd thn 1934, Soekarno singgah di Bima. Semenjak itulah Bung Karno mendalami anatomi Kerajaan Bima. Sdh mahfum kita tahu, bhw rumpun kerajaan-kerajaan di Nusantara selalu bertautan dlm transmisi genetik, ideologi dan visi pembebasan dari cengkraman Hindia Belanda. 

Konon, pasca dibebaskan dari Ende, Soekarno kemudian menjalin korespondensi diplomatik dgn para Raja. Krn Bung Karno sadar, bhw superioritas kerajaan-kerajaan ini adl kekuatan utk menaikkan posisi tawar di hadapan Belanda. Soekarno ingin ada satu suara dari sluruh kekuatan raja-raja. Rasionalisasi pencapaian kemerdekaan dan pembentukan Negara Indonesia, hny bs didpt dgn membangun sinergi dgn sluruh Raja dari semenanjung Melayu hingga Papua. 

Bagi para Raja, ini adl langkah maju utk menjadikan martabat kerajaan makin berwibawa di hadapan kolonial. Jadilah kemudian, konsesi-konsesi politik dibuat, dan para elite pribumi di Batavia menjanjikan bhw simpul-simpul kerajaan tua dan berpengaruh di Nusantara akan memback-up perjuangan Bung Karno cs scr moril dan materiil. 

Konsep bersama yg kemudian disepakati, disusunlah naskah maklumat dari beberapa Kerajaan (Zelfbesturende Landschappen), antara lain; KesultananNgajogjakarta Hadiningrat (representasi Jawa), Kesultanan Atjeh (representasi Melayu-Andalas), Bulongan (Kalimantan Utara), dan Kesultanan Bima (mewakili poros Indonesia Timur). Isi dari maklumat bg 3 wilayah tsb sama ! Hanya yg dirubah adl nama kerajaannya sj. Jogja lbh awal memaklumkan sikap tsb pd 5 November 1945, disusul Aceh, dan Bima pd 22 November 1945. 

Lalu apa isinya? Ini dia : 

"Maklumat Kesultanan Bima 22 November 1945” 

1. Pemerintah kerajaan Bima, adalah suatu daerah istimewa dari negara Republik Indonesia dan berdiri di belakang pemerintahan Negara Republik Indonesia. 

2. Kami menyatakan, bahwa pada dasarnya segala kekuasaan dalam pemerintahan kerajaan Bima terletak di tangan kami, oleh karena itu sehubungan dengan suasana dewasa ini, maka kekuasaan – kekuasaaan yang sampai sekarang ini tidak ditangan kami, maka dengan sendirinya kembali ke tangan kami. 

3. Kami menyatakan dengan sepenuhnya, bahwa perhubungan dengan pemerintahan dalam lingkungan kerajaan Bima bersifat langsung dengan pusat Negara Republik Indonesia. 

4. Kami memerintahkan dan percaya kepada sekalian penduduk dalam seluruh kerajaan Bima, mereka akan bersifat sesuai dengan sabda kami yang ternyata di atas. 

Bima, 22 November 1945 

Paduka Yang Mulia, 
Sri Sultan Muhammad Salahuddin 

So, what ? 

Sidang BPUPKI thn 1945 berlangsung alot krn hrs mencari jalan tengah ttg bentuk Negara, antara Kesatuan atau Federasi, pd akhirnya, 17 suara setuju utk format kesatuan, sdgkan 2 suara memilih federasi. Bgmana nasib kerajaan-kerajaan? 

Merujuk statuta maklumat bbrp kerajaan di Nusantara yg menyetujui Proklamasi Kemerdekaan RI, beberapa wilayah memang hrs didudukkan scr proporsional sesuai penegasan identitasnya dlm maklumat. Kerajaan Bima sndiri, sejak lama tlh ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sbg zelfbesturende/landchappen setingkat Kabupaten. 

Namun sidang BPUPKI menyamaratakan zelfbesturende landchappen (Kesultanan) dan volksgemeinschaften (Perkampungan). Zelfbesturende landchappen ditegaskan hanya sebagai daerah, tdk lg sebagai negara, pdhal kita semua tahu bhw hampir sluruh Zelfbesturende landschappen yg ada di Nusantara dahulunya berbentuk ibarat negara yg sistem peralihan kekuasaannya melalui monarki-aristokrasi. Kesitimewaannyapun dikaitkan dengan susunan asli dari daerah tersebut. 

Secara de jure, tamatlah riwayat Kesultanan Bima di sini, namun menindaklanjuti Peraturan Pemerintah NIT staatsblad 1946 No. 143 tanggal 24 Desember tentang pembentukan Soembawa Eiland Federatie, yang mengharuskan Pemerintahan di pulau Sumbawa dijalankan oleh sebuah Dewan Kerajaan. Maka Dewan Raja-Raja yang diketuai oleh Sri Sultan Bima pun dibentuk yg beranggotakan Sultan Sumbawa (Menantunya sendiri). Dewan Raja-raja ini sendiri tetap berada dalam naungan NIT melalui Residen Timur. Di luar sidang PPKI, Soekarno justru lbh awal menetapkan empat piagam kedudukan untuk empat penguasa Jawa. 

Sejak tahun 1945 sampai 1959, terdpt beberapa wilayah yg berstatus Daerah Istimewa, yakni : 
1. Daerah Istimewa Berau 
2. Daerah Istimewa Bulongan 
3. D.I. Kutai 
4. D.I. Kalimantan Barat 
5. D.I. Yogyakarta 
5. D.I. Surakarta 
7. D.I. Aceh 

Lalu, bagaimana keistimewaan Bima sesungguhnya? 

Coba sekilas bandingkan dgn Daerah Istimewa Berau dan Daerah Istimewa Bulongan sbg daerah istimewa setingkat kabupaten di dalam lingkungan Provinsi Kalimantan. Daerah Istimewa Berau dan Daerah Istimewa Bulongan dibentuk dengan UU Darurat 3/1953 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II di Kalimantan karena hak asal-usul yang dimilikinya, skali lg "karena hak asal-usul yg dimilikinya". Daerah Istimewa Berau terdiri atas swapraja Sambaliung dan swapraja Gunung-Tabur. Keistimewaan Daerah Istimewa Berau meliputi pengangkatan Kepala Daerah Istimewa. Kepala Daerah Istimewa Berau dijabat oleh Sultan Muhammad Amminuddin. Begitu pula dgn Daerah Istimewa Bulongan, kini wilayahnya, yang meliputi Kab. Bulungan, Malinau, Nunukan, Tana Tidung, dan Kota Tarakan, dibentuk satu provinsi, Provinsi Kalimantan Utara pada 17 November 2012, terpisah dari Provinsi Kalimantan Timur. 

Pdhal kalau kita flasback, pd thn 1946, Sri Sultan Muhammad Salahuddin telah menginisiasi pembentukan Dewan Raja-Raja Pulau Sumbawa sbg suatu zelfbesture landshappen yg solid, ini adl manifesto kepatuhan beliau pd Peraturan NIT. Mungkin, jika Sultan Salahuddin msh hidup pd tahun 1953, sdh pasti UU Darurat 3/1953 dan tekanan dari beliau sbg satu-satunya Sultan yg dituakan, akan memaksa pemerintah pusat menjadikan Pulau Sumbawa sbg Daerah Istimewa. Dan.... Propinsi Pulau Sumbawa itu sdh jauh hari terbentuk tanpa tolak-tarik sentimen Pusat dgn Daerah spt saat ini. 

Mimpi utk mjd Daerah Istimewa adl mimpi mendiang Sri Sultan Bima Muhammad Salahuddin, dan segenap pemangku kepentingan di Kesultanan Bima saat ini, dan jg mimpi kita semua. Dgn jabatan terakhir sbg Kepala Swapraja Bima, tahun 1950 beliau berpulang ke Sang Raja Alam Semesta, mangkat di Jakarta, dan menanamkan cita-cita itu dlm tidur panjangnya di Karet Bivak. Beliau satu-satunya Sultan di nusantara yg disemayamkan di tempat Proklamasi Kemerdekaan kita di pegangsaan timur. 

Tgl 4 Juli 2013, Kita menuju pd kebangkitan spirit baru utk membereskan kembali memori historis kita. Penobatan Sultan Bima ke XVI "Sultan Haji Ferry Zulkarnain Bin Putera Abdul Kahir Bin Muhammad Salahuddin". Sebuah prosesi pengukuhan yg tlh punah sejak 96 tahun yg silam (meskipun Almarhum Putera Abdul Kahir tdk sempat merasakan penobatan diri beliau sbg Sultan pd 2002 yg silam). 

Bayangkan, sejak sidang BPUPKI/PPKI dan pengesahan UUD 1945, lalu penerapan peraturan-peraturan ttg Daerah Istimewa sejak digodok dlm UU 22/1948, Konstitusi RIS 1949, UUDS 1950, lalu UU Darurat 3/1953, lalu UU 1 1957, lalu UU 18/1965, lalu masa orde baru sejak UU No. 5/1974, lalu masuk masa reformasi sejak UU No. 22/1999, UU No. 32/2004. Lalu UU No. 11/2006 ttg pengesahan status Aceh, dan terakhir UU No. 13/2012 tentang Keistimewaan Yogyakarta.... 
Di lintasan rezim dan peralihan aturan itu, "Sang Bima" hanya mjd seorang raksasa yg dilucuti kesaktiannya. 

Tahun 1946, Dewan Raja-Raja Pulau Sumbawa diketuai oleh Sri Sultan Muhammad Salahuddin, beranggotakan Sultan Sumbawa Muhammad Kaharuddin dan Sultan Dompu. Kini, beberapa waktu lg kita akan membangun kekuatan baru, kekuatan pembangun, melanjutkan spirit para Sultan pada 67 thn yg lampau. Sultan Sumbawa Daeng Ewang, tdk lain adl cucu dari mendiang Sri Sultan Muhammad Salahuddin, anak dari Sultan Sumbawa yg menikahi puterinya Siti Aisyah. Dan, calon Sultan Bima, Dae Ferry, jg adl cucunya sendiri. 

Semoga, apapun yg mjd romansa pemikiran ini memecut cita-cita kita melanjutkan perjuangan para Sultan. Tentunya dgn berlandaskan kaidah, Al mukhafadzatu 'ala qodimissalih wal akhdu bil jadidil aslah. Ahlan wa sahlan Sultan Bima XVI !!!