Tuesday, September 29, 2009

SANTABE


"Adat Matengi Sara, Sara Matengi Kitabullah"

Monday, September 28, 2009

REINVENTING BIMA


Dzul Amirulhaq, Direktur Eksekutif Fitua Institute

Wednesday, July 29, 2009

Doro Nisa


Konon, pada mulanya ekspedisi laut Kompeni yang hendak ekspansi ke Bima tidak sempat memasuki wilayah teluk Bima, karena dari kejauhan pandangan terhadap celah masuk teluk Bima terhalang oleh sebuah gunung (baca: pulau) yang terlihat seolah-olah menyatu dengan Gunung Soromandi dan Bukit Ule. Karena itulah, mereka memasuki Bima melalui pintu timur di arah Sape dan Wera, baru kemudian menjelajahi bukit-bukit untuk dapat mengenali -dan menguasai- Bima secara menyeluruh. Mungkin karena itu pula dahulu ekspedisi laut kerajaan lain tidak sempat mengabadikan prasasti atau candi-candi penting di tengah Kota. Situs-situs sejarah justru banyak ditemukan di wilayah Sowa (Kec. Donggo) dan sebagian di So Nggela, yang merupakan daerah pesisir mulut teluk Bima.

Bagi Anda yang pernah menumpangi kapal laut, potret keunikan teluk Bima sudah bukan cerita baru lagi. Ketika masuk dari arah utara, tentu kita tidak bisa melihat Teluk Bima (baca: Asakota) karena memang terlihat tak ada pintu masuk bagi kapal laut. Gunung "penghalang" itu dikenal dengan nama Pulau Kambing atau bagi masyarakat Bima lazim disebut Doro Nisa. Dirunut secara harfiah, penyebutan Pulau Kambing akan melahirkan tafsiran mutlak bahwa Pulau tersebut dihuni oleh ratusan atau ribuan kambing. Entah sejak kapan dan dari mana penamaan ini bermula, yang jelas berdasarkan penelusuran ceritera tutur mengatakan, bahwa dinamai Pulau Kambing karena dahulunya memang menjadi tempat memelihara kambing dalam jumlah banyak (?). Versi lain mengatakan bahwa Pulau tersebut mirip dengan kepala kambing (?). Sedangkan nama Doro Nisa secara etimologis berasal dari bahasa Mbojo Mantoi (baca: Sansekerta kuno) yang artinya Gunung Pulau, karena memang berada tepat di tengah teluk.

Tentang Doro Nisa ini berkembang mitos yang menyertainya. Konon, di zaman Raja-raja Bima lama Pulau Kambing ini bisa bergeser ke utara dengan sendirinya, hal itu terjadi mana kala ada sekelompok bajak laut atau musuh yang hendak masuk mengganggu masyarakat Bima, sehingga mereka urung niat karena tidak menemui jalan masuk. Mitos tersebut masih dianut sampai saat ini, menjadi dongeng dan cerita rakyat bagi sebagian orang Bima. Terlepas benar atau salah tentang mitos tersebut, setidaknya secara geografis (maritim) celah masuk ke dalam teluk Bima memang kecil, dan tentu saja keberadaan Pulau Kambing telah membuat Teluk Bima sebagai teluk yang indah, dikelilingi oleh gunung Ule di sebelah timur, gunung Londa di belahan selatan, dan gunung Soromandi di bagian barat.

"Paja raso moti mbojo
Owa kancilo wunga teka na liro,
Do na Lewamori nantuki Da soromandi,
Na sakaka doronisa woha moti"

Bima Bay, Small but beautiful....

Monday, July 27, 2009

FORUM FILSAFAT DANA MBOJO


"Midi mena, KadeE mena, Nggeko mena, Na Kasikura Ade Allaahu Ta'ala"

Grup Fitua Mbojo adalah Komunitas spiritual dan budaya Bima, yang menitikberatkan aktifitas dan kajiannya pada pusaka spiritual masyarakat bima yang dapat dijadikan sebagai pijakan untuk menyingkap fenomena-fenomena yang terjadi di Bima Raya.

Secara etimologis, istilah fitua berasal dari bahasa melayu "fatwa" yang berarti petuah atau nasehat. Pada sebagian kalangan, fitua merupakan akronim dari sebutan "fikitua" yang bermakna khazanah pikiran kaum tua yang berkonotasi konservatif dan tradisional. Di kalangan masyarakat Bima sendiri, sebutan Fitua menjadi justifikasi petuah-petuah lama yang dapat dijadikan sebagai pedoman bersikap dan bertindak dalam memecahkan setiap permasalahan. Dalam praktek keseharian kita, Fitua kerap kali muncul dalam bentuk pantun, nyanyian rakyat, alegori, metafora dan kaidah-kaidah adat. Prinsip dasar fitua ialah adagium "adat matengi sara, sara matengi kitabullah". Ini sejalan dengan filosofi mayoritas kesulthanan di tanah melayu. Eksistensi Fitua -entah itu dilihat sebagai pemeo atau idiom- menjadi indikasi bahwa dalam riwayat pertumbuhan intelektual masyarakat Bima terdapat benang merah (kontak sosial) dengan kerajaan melayu pada umumnya. Secara dogmatis, fitua menjadi semacam otorisasi intelektual Islami bagi masyarakat Bima.

Sejauh ini, fitua masih dikenal sebagai falsafah yang absurd dan cenderung metafisik, hal ini disebabkan oleh kecenderungan tradisi belajar kaum tua yang menggunakan pendekatan "Nge'e Nuru Di Uma Guru", sehingga fitua lebih populer sebagai kurikulum dari mulut ke mulut, dengan memprioritaskan tradisi imla' (lisan). Dalam teks-teks sejarah resmi yang diterbitkan oleh Kesulthanan, kita tidak menjumpai adanya sisa-sisa peradaban intelektual yang mengambil bentuk pondok pesantren atau rumah belajar adat seperti yang lazim di tanah Jawa atau wilayah lain di Nusantara. Tradisi paternalistik yang menjadi fatzoen sosial masyarakat Bima pun mempengaruhi model pembelajaran informal di kala itu. Hal ini tidak terlepas dari peran administartur kerajaan sebagai pemegang otoritas sosial-budaya orang Bima. Determinasi ini akhirnya mempengaruhi corak intelektualitas orang Bima menjadi lebih condong pada trend tutur ilmiah ketimbang menuliskan karya-karyanya dalam bentuk kitab atau lembaran ilmiah.

Tak heran, kekuatan daya ingat orang-orang tua kita sangat mumpuni dalam hal mengoleksi petuah-petuah adat lama (Dan ini memang tidak terbukukan sama sekali). Secara akademis, Fitua dapat kita katakan sebagai bentuk filsafat adat masyarakat Bima yang memiliki determinasi cukup luas terhadap semua ranah realitas Dou Mbojo. Sepintas kita dapat menilai kemiripan ini dengan tradisi Pasai dan Perlak lama yang menampilkan pesan-pesan spiritual dalam bentuk soneta dan gurindam.


Contoh Fitua Mbojo bisa tercermin dalam Filosofi Kepemimpinan Manggusu Waru :

1) Ma To'a di Ruma labo Rasul (Taat kpd Allah dan Rasul)

2) Ma Loa Ro Bade (Cerdas dan Bijaksana)

3) Ma Mbani Ro Disa (Gagah dan Berani)

4) Ma Bisa Ro Guna (Wibawa dan Kharismatik)

5) Ma Tenggo Ro Wale (Kuat dan Gigih)

6) Mantiri Nggahi Ro Kalampa (Jujur, sesuai tutur kata dan perbuatan)

7) Mantiri Fiki Ro Paresa (Adil dan Seksama)

8) Londo Dou Mataho (Keturunan yang Baik)

Ini adalah sekelumit contoh dari keberadaan fitua itu sendiri. Bagi masyarakat Adat Bima, filosofi-filosofi seperti ini dijadikan acuan dasar dalam berfikir dan bertindak serta memecahkan setiap persoalan yang mengemuka di tengah dinamika sosial dalam berbagai aspek.

Lewat grup ini, saya mengajak sahabat-sahabat Bima Raya untuk mengaktualisasikan ide-ide, pemikiran-pemikiran bahkan wacana-wacana ilmiah khas masyarakat Bima, untuk didiskusikan secara berjamaah. Setidaknya untuk menjaga eksistensi "fitua" sebagai kekayaan intelektual agung masyarakat Bima Raya. Last but not least, Fitua Institute, secara essensial bertujuan untuk mentransformasikan feodalisme menjadi energi tradisionalisme baru "Mbojo Mantoi" agar dapat diterima secara wajar di tengah kompetisi global saat ini. Di tengah kekinian kita, barangkali "fitua" dapat menjadi spirit pemersatu segala perbedaan kita, dan menjadi penyangga ketahanan budaya Dou Mbojo dalam menantang arus persaingan di segala lini modernisme global.

Semoga blog ini dapat bermanfaat bagi semua, Fitua Institute hanyalah secuil gagasan kami dalam upaya meretas ranah menuju restorasi sejarah gemilang Bima Raya. Mudu Mpori Karente Wadu - Wotu Wadu Woko Mpori.

Wallaahul Muwaafiq ilaa Aqwamit Thorieq,

BENHUR MBOJO DENGAN BEN HUR LAW WALLACE


Dzul Amirul Haq

Sudah lazim dikenal, bahwa Ben Hur merupakan kendaraan berkuda tradisional masyarakat Bima. Nama Benhur sendiri sudah cukup melekat dalam ingatan setiap orang Bima. Di Lombok, kendaraan serupa bernama Cidomo, sedangkan di daerah Jawa disebut Delman atau Bendi. Saat ini di Kota Bima, Benhur masih menjadi transportasi pilihan bg sebagian kalangan. Selain dinilai ramah lingkungan, murah, unik, santai dan bisa menampung sekitar 6 orang untuk satu baknya. Di wilayah Kota Bima, Ben Hur begitu ramai dijumpai di jalan-jalan arteri dari dan ke kawasan pasar ikan, pelabuhan, lintas Gajah Mada, dan lintas selatan. Sedangkan di wilayah Kabupaten Bima, Ben Hur masih diyakini sbg transportasi unggulan di semua kecamatan.

Akan tetapi, tahukah Anda dari mana asal muasal istilah "Ben Hur" ini bermula?

Berikut ulasan ringan Fitua yang disadur dari berbagai sumber;

Ben Hur. Merupakan sebuah Novel karya Lew Wallace (1827-1905) yang berjudul "Ben-Hur: A Tale of Kristus". Novel ini diterbitkan pada tahun 1880. Film ini berkisah tentang kehidupan Judah Ben-Hur di awal abad ke-1. Ben-Hur adalah seorang pangeran Yahudi yang kaya raya. Suatu ketika, Ben-Hur mendengar kabar bahwa sahabat masa kecilnya yang bernama Messala menjadi komandan garnisun di Yerusalem tempat Ben-Hur tinggal. Sayangnya perpisahan yang cukup lama telah mengubah Messala menjadi orang yang bengis dan kejam. Dalam waktu singkat pun persahabatan ini berubah menjadi permusuhan dan Ben-Hur serta keluarganya harus mendekam di dalam penjara tentara Romawi.

Dalam perkembangannya, Novel Ben Hur ini kemudian diadaptasikan dalam bentuk film:

* Ben-Hur (1907 film) , satu-kumparan diam versi
* Ben-Hur (1925 film) , sebuah film bisu MGM bintangi Ramón Novarro
* Ben-Hur (1959 film) , sebuah film MGM suara bintangi Charlton Heston yang memenangkan 11 Academy Awards
* Ben-Hur (2003 film) , sebuah animasi direct-to-video film dengan suara Charlton Heston
* Ben-Hur (play) , yang bermain Broadway

Istilah Ben Hur pun di kenal pula sebagai:

* Ben Hur, California, sebuah komunitas di unincorporated Mariposa County, California
* Ben Hur, Texas , a town Ben Hur, Texas, sebuah kota
* Ben Hur, Virginia, sebuah unincorporated masyarakat di Lee County, Virginia

Bahkan muncul sebagai:

* Klub Sportivo Ben Hur, sebuah rantai dari klub olahraga di Argentina
* Ben Hur (automobile), sebuah awal mobil
* Ben Hur trailer, nama panggilan untuk WWII G-518 Satu Ton Army trailer

@ FILM TERHEBOH SEPANJANG SEJARAH

Dalam sejarah 80 kali penyelenggaraan Oscar, ada beberapa film yang tercatat meraih penghargaan terbanyak di tahun yang sama. Dari tiga film yang berhasil mendapat 11 piala Oscar, BEN-HUR adalah yang pertama kali mendapat kehormatan memecahkan rekor ini di tahun 1960.

Pada pesta Oscar yang digelar pada tanggal 4 April 1960 itu film hasil arahan sutradara William Wyler ini berhasil merebut semua kategori paling bergengsi tahun itu. Setidaknya di antara 11 piala yang diboyong ada award untuk kategori Film Terbaik, Penyutradaraan Terbaik, Aktor Utama Terbaik, Aktor Peran Pendukung Terbaik.

BEN-HUR sendiri sempat tercatat sebagai film dengan biaya produksi yang sangat tinggi. Untuk menghasilkan film ini, sang sutradara membangun 300 lokasi pengambilan gambar yang menyita ruang sekitar 1,4 km per segi. MGM sendiri sempat mengambil resiko tinggi dengan mengucurkan dana US$15 juta untuk biaya pembuatan film ini. Untungnya performa box office film ini tak mengecewakan dan malah menyelamatkan MGM dari kebangkrutan.

Sampai saat ini, rekor piala Oscar film ini hanya tertandingi oleh film TITANIC (1997) yang berhasil meraih 11 Oscar dari 14 nominasi dan THE LORD OF THE RINGS: THE RETURN OF THE KING (2003) yang berhasil memboyong 11 piala dari 11 nominasi.

@ BEN HUR MBOJO VIS A VIS BEN HUR FILM


Bagi para penikmat film box office, penyebutan istilah Benhur tidak serta merta menggiring mereka utk mengingat Bima. Karena secara global, Ben Hur lebih dikenal sebagai Film Heroik yang mengisahkan Sang Judah dengan kendaraan berkuda. Kemungkinan besar, istilah Ben Hur teradopsi pertama kali oleh para residen Belanda yang bertugas di Bima kala itu, dengan melihat kendaraan berkuda yang ada di Bima mengingatkan mereka pada kisah Judais Ben Hur tersebut. Lew Wallace pun tak pernah berpikir bahwa suatu ketika novelnya telah meng-inspirasikan orang Bima utk menamai kendaraan mereka dengan Ben Hur. Uniknya, penamaan Ben Hur justru tidak menular ke kawasan lain yang juga melestarikan kendaraan kuda tradisional ini.

Inilah Bima dengan secuil keunikannya...

(Fitua sendiri mengetahui ini pertama kali pada tahun 2002 dari Buku Islam And Identity In Eastern Indonesia tulisan Prof. Dr. Michael Hitchcock)
TAHUKAH ANDA DENGAN LAMBANG GARUDA BERKEPALA DUA (?)

Seperti yang telah tertulis dalam buku-buku resmi sejarah kerajaan Bima. Simbol Garuda Berkepala Dua (Double-headed eagle) menjadi "coat of arms" dari kerajaan Bima. Entah kapan simbol ini mulai dibakukan secara resmi sebagai lambang kebesaran kerajaan, namun yang pasti dalam Bo Sangaji Kai dijelaskan bahwa simbol ini mulai muncul pada periodesasi kepemimpinan Sulthan Abdul Hamid Zilullahi Fil Alam (1779-1817). Hanya saja, dalam penjabaran maknanya, aspek-aspek dalam simbol tersebut ditafsirkan secara Islami dan Tasawwuf. Ini tidak lain sebagai kewajiban sebuah Kesulthanan untuk tetap mengelaborasikan nilai dan spirit Islam dalam seluruh aspek eksistensial kerajaan.

Simbol Garuda berkepala dua sendiri sudah tidak asing di dunia. Double headed-eagle atau Twin headed-bird adalah emblem dari Ecumenical Patriarchate of Constantinople (Istanbul), Kekaisaran Byzantium. Kepala bagian kiri (barat) berarti Roma, dan kepala bagian kanan (timur) merujuk pada Constantinople. Terdapat sedikitnya 13 bangsa di eropa yang menggunakan simbol ini sebagai lambang peradaban. Antara lain yang diketahui:

* Albania (Coat of arms of Albania)
* Armenia (see Coat of arms of Armenia)
* Austria-Hungary (Sejarah Austria)
* Austria (1934-1938) (see Coat of arms of Austria)
* Byzantine Empire (historical)
* Konfederasi Jerman (historical)
* Holy Roman Empire (historical)
* Montenegro (see Coat of arms of Montenegro)
* Republika Srpska (formerly used from 1992 until 2007) in Bosnia and Herzegovina
* Federasi Russia (see Coat of arms of Russia)
* Russian Empire (historical)
* Kerajaan Seljuk (historical)
* Kerajaan Serbian (historical)
* Serbia and Montenegro (historical)
* Serbia (see Coat of arms of Serbia)
* Kingdom of Yugoslavia (historical)
o Kingdom of Serbs, Croats and Slovenes (historical)

Dan juga ditemukan sebagai bendera kebangsaan:

* Flag of Albania
* Flag of Montenegro
* State Flag of Serbia
* The flag of the Greek Orthodox Church, which is also used unofficially at the autonomous monastic state of Mount Athos
* Coat of Arms and flag of Hellenic Army General Staff. Also Coat of Arms and flag of Hellenic Army XVI Infantry Division [1].
* With the addition of Greek letters "Ε Φ" or the label "ΕΘΝΙΚΗ ΦΡΟΥΡΑ" a similar coat of arms is used by the National Guard of the Republic of Cyprus [2].
* The coat of arms of Bolsward, Netherlands

Double-headed eagles telah muncul sebagai simbol kebanggaan beberapa negara. Secara arkeologis, Simbol ini mengingatkan kita pada peradaban Hittite yang diduga pernah ada pada abad ke 20 SM sampai abad 13 SM.

"Cylindric seals discovered in Bogazkoy, an old Hittite capital in modern-day Turkey, represent clearly a two-headed eagle with spread wings. The aesthetics of this symmetrical position explains in part the birth of this religious figure. It probably dates from the 18th century BC, and was used in a tradesman background. It can also be seen in the same region in two monumental settings: in Alacahöyük around 1400 BC and in Yazilikaya before 1250 BC. Here the context looks different and totally religious: the eagle becomes a divinity symbol. The two-headed eagle slowly disappears during the last Hittite period, from the 9th century BC to the 7th century BC, and totally disappears after the end of the empire."
(Untuk lebih jelas tentang sejarah Double-Headed Eagle ini, Anda dapat membaca langsung di kamus wikipedia atau boleh melihat posting artikel tersebut di www.fitua.blogspot.com)
______________________________________________-

Bagaimana dengan simbol tersebut yang telah menjadi spirit semiotik masyarakat Bima?
Tentunya, kita perlu menganalisis korelasi-korelasi historis ini secara arif dan bijak. Memang banyak kalangan yang telah mahfum bahwa simbol Garuda berkepala dua tersebut sebagai simbol Mason (baca: Zion), karena hampir semua negara yang menggunakan simbol tersebut berlatar ideologis yahudi kuno. Namun, dalam sisi pandang kerajaan Bima, tak satu pun vektor dan ordinat dalam simbol tersebut yang bermuatan Mason. (Hal ini bisa Anda baca sendiri dalam penjelasan simbol garuda berkepala dua yang masih terpampang hall Museum ASI Mbojo).
______________________________________________

Simbol Garuda berkepala dua juga saat ini telah menjadi lambang Pemerintah Kota Bima yang berdiri pada tahun 2002. Fitua Mbojo sebagai sebuah grup diskusi kebudayaan terdorong untuk menggunakan simbol ini sebagai tampilan profile grup, dengan maksud untuk mendekatkan kembali jarak nalar sejarah kita dengan essensi peradaban yang dikandung oleh Bima tempo dulu.

Apabia Anda memiliki informasi atau sumber lain tentang simbol double-headed eagle ini, alangkah baiknya jika artikel atau referensi tersebut dapat ditampilkan pada grup ini.

Thursday, June 11, 2009

Bimanese Personal Names: The View from Bima Town and Donggo | Melayu Online

Bimanese Personal Names: The View from Bima Town and Donggo | Melayu Online

Shared via AddThis