Friday, April 10, 2015

KNPI GOES TO CAMPUS | Ngamen Penuh Inspirasi



Mbodjocoustic Album - Nickyrawi
Kota Bima, 25 – 29 Nov’ 2014

Sesungguhnya tidak ada yang terkesan istimewa dari istilah KNPI Goes To Campus, arena memang menjadi kewajiban bagi Komite Nasional Pemuda Indonesia sebagai wadah  berhimpun seluruh elemen muda, untuk selalu hadir di tengah eksistensi dan geliat para pemuda. Kampus, sebagai wahana persemaian ide dan gagasan intelektual, tentu saja menampung energi-energi perubahan dan pembaharuan yang luar biasa, selaras dengan tri dharma perguruan tinggi, mahasiswa adalah elemen penting yang memberi warna bagi dinamika suatu masyarakat dalam seluruh aspek secara integral.

Gagasan awal untuk meretas kegiatan ini sebenarnya bermula dari diskusi-diskusi ringan beberapa pengurus KNPI di Pendopo Pemuda (Sekretariat DPD KNPI Kota Bima), beberapa orang menghendaki adanya reorientasi pola hubungan KNPI dengan sahabat-sahabat muda di kampus, karena bagaimanapun juga, keberadaan Badan Eksekutif Mahasiswa, beserta perangkat-perangkat institusionalnya, telah secara factual berfungsi sebagai laboratorium kepemimpinan dan kaderisasi akademik yang berkelanjutan. Termasuk Organisasi-organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus, juga berdinamika dan bermetamorfosa seiring perkembangan yang ada di dalam kampus masing-masing. Karena itulah, berbagai formula pendekatan coba ditempuh untuk dapat menciptakan gairah hubungan yang mutualis dan penuh suka cita.

Jika selama ini, kampus sangat identik dengan forum-forum diskusi akademis, itu memang merupakan keniscayaan. Karena itulah, KNPI hadir dengan cara yang sedikit moderat, yakni menggelar sebuah hajatan entertain yang tetap menjunjung tinggi substansi edukasional dan cultural. Pemilihan istilah Goes To Campus, lebih dititikberatkan pada nuansa entertainment, yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti, KNPI Hadir di Kampus. Frase ini kami pilih untuk menunjukkan bahwa KNPI sebagai wadah payung bagi OKP dan Komunitas-komunitas pemuda tidak harus bertingkah birokratis di menara gading, yang hanya menunggu laporan dan informasi, serta gagap berkomunikasi dengan sesame pemuda, bahkan jangan sampai akhirnya KNPI tidak mampu mengenali pokok-pokok pikiran aspiratif dari sahabat-sahabat muda. Dengan hadir di kampus, meski dalam durasi yang cukup singkat, menjadi sebuah penegasan atas komitmen KNPI Kota Bima untuk membuka diri bagi mahasiswa agar tidak merasa memiliki jarak dengan organisasi ini.

Kenapa Harus Bernyanyi, Kenapa Tidak Diskusi?
Seperti yang sedikit terurai di atas, diskusi, seminar, pengkajian dan penelitian adalah kebutuhan dan keniscayaan dari penyelenggaraan salah satu butir tri dharma perguruan tinggi. Justru bagi KNPI, hampir semua kampus yang ada di Bima saat ini telah menunjukkan dedikasi dan pengabdian nyata terhadap daerah. Karya-karya akademik dari perguruan tinggi, fasilitas kampus, termasuk kompetensi dan kapasitas para staf pengajar, bahkan prestasi akademik para alumni kampus di Bima, telah diakui secara nyata, bahkan beberapa pos strategis pemangku kepentingan di Bima ditempati oleh para civitas akademika lokal.

Mungkin terlalu cepat bagi KNPI saat ini untuk langsung memprakarsai diskusi-diskusi dan seminar-seminar akademik, oleh karena itu, dengan hadir dalam kemasan entertainment seperti ini, KNPI ingin menjalin keakraban yang lebih simpatik dan penuh suka cita, sembari mencoba menjadikan suasana semacam ini sebagai sambung rasa pelepas jenuh. Kadangkala, seni (Musik) menjadi media pengantar pesan yang efektif di tengah kegalauan situasional kita, seni memiliki kekuatan tersendiri untuk membangkitkan gairah, memecut nalar, membangkitkan inspirasi dan sesekali memperhalus nurani. Apalagi, di usia-usia kita yang muda saat ini, kegandrungan pada music menjadi hal yang wajar dan boleh dikata sebagai suplemen belajar ekstra.


Kenapa Harus Lagu Bima?
Mungkin bagi sebagian kecil orang, lagu Bima acap kali mendapat stempel minor, dituduh katro’, kampungan dan kurang gaul. Karena arus informasi dan media saat ini menyodorkan kita pada perkembangan genre music yang variatif. Sesekali miris, melihat sebahagian kawan kita yang menggandrungi lagu-lagu mancanegara (baca: Musik Barat), justru terjerembab begitu serius mengidolakan para penyanyinya bahkan mengikuti gaya hidupnya, tentu saja untuk motivasi itu sangat penting, tetapi tidak lucu jika gaya-gaya artis luar negeri yang kadang berbenturan dengan budaya kita dijadikan pilihan mode dalam kehidupan social nyata sebagai orang Bima.

Secara sadar, apapun keadaan dan kenyataan dari Lagu Bima, sejatinya itulah bahasa kita, bahasa tutur yang telah bersifat “given” sejak kita lahir, melewati masa kanak-kanak sampai tumbuh menjadi remaja yang cerdas. Lagu Bima -meski mengesankan nuansa primordial bahkan chauvinis- meski tidak semuanya mampu merefleksikan nilai-nilai kebimaan secara utuh, bahkan tidak diaransemen secara etnik sekalipun, tetaplah menjadi gugusan bahasa-bahasa pergaulan sederhana kita dalam melakoni keseharian sebagai Orang Bima. Syair-syair lagu Bima, dari masa ke masa, tetaplah menyiratkan pesan-pesan moral yang luhur, disampaikan dengan lugas dan ringan, dalam nada-nada yang sederhana. Bukankah menjadi paradox, ketika kita mempersoalkan terkikisnya budaya Bima, lalu pada saat yang sama kita menertawai lagu-lagu bahasa daerah kita sendiri? Bukankah terkesan lucu, jika lagu Bima dibandingkan dengan lagu-lagu barat atau lagu-lagu hits Indonesia saat ini, tentu tidaklah sepadan.

Lagu Bima haruslah tetap mendapat tempat istimewa di hati dan pendengaran kita, tentunya sesuai selera dan genre yang kita suka. Karena saat ini, Bima telah meretas begitu banyak seniman-seniman muda potensial yang kemampuannya juga tidak boleh diremehkan begitu saja, begitu pula di kampus-kampus, ada begitu banyak talenta mahasiswa yang tergabung dalam UKM Seni yang sebenarnya perlu dilirik dan dieksplorasi untuk menghasilkan karya-karya seni monumental bagi kebanggaan daerah. Ada sebahagian dari kita yang begitu fasih menyanyikan lagu asing, mungkin belum tentu mereka memahami substansi lagu itu, kita telah terjebak nada lalu melupakan makna. Akan menjadi positif dan konstruktif jika kegemaran kita pada lagu-lagu asing menjadi perangsang kita menguasai bahasa-bahasa pergaulan internasional dan meng-upgrade wawasan kita tentang dunia. Seperti adagium yang sering kita tahu, “Think globally, Act locally”, Berpikir global Bertindak lokal.

Karena itulah, mengetengahkan lagu Bima menjadi sajian sederhana KNPI dalam usaha membangkitkan gairah cipta dan karya dengan tetap memperhatikan wawasan-wawasan kebudayaan, sebagai cerminan visi besar kaum muda untuk menjadi agen perubahan yang tidak hanya mampu menyampaikan kritik dan sanggahan, namun juga menjadi generasi pembaharu yang menebar benih-benih simpati dan kedamaian bagi masyarakat luas.

Apa itu Nickyrawi & Mbodjocoustic?
Nickyrawi adalah sebuah nama alias, julukan cultural yang disematkan kepada penyanyi sekaligus pencipta album Mbodjocoustic. Album Mbodjocoustic adalah sebuah album Indie, karya dan inspirasi dari tiga orang musisi muda Bima, yakni Gus Irul, Rommy Fridya dan Herwanda Septiawan. Ketiganya adalah pengurus DPD KNPI Kota Bima periode tahun 2014 – 2017. Album ini pada mulanya dibuat secara santai dan iseng oleh Gus Irul, dalam corak music yang sangat simple, pada awalnya semua lagu dalam album ini masih mentah dengan mengandalkan vocal dan gitar akustik saja. Ada 13 lagu dalam album ini, yang berisi lagu-lagu tentang historiografi seperti “Nangi Dana Tambora”, yang menuturkan kembali kedahsyatan letusan gunung Tambora pada tahun 1815, lagu ini dikemas dalam nuansa balada sesuai aliran music yang digeluti oleh Gus Irul sebagai pencipta sekaligus penyanyinya. Lagu “Ura Masa” mengajak kita, Orang Bima, untuk memupuk kerinduan dan terpanggil menjadi orang-orang hebat di negeri kita sendiri, lagu ini biasanya lebih dekat secara emosional bagi para perantau. Lagu ”Stoproppo”, sesuai judulnya adalah ajakan untuk menghentikan tradisi saling memprovokasi dan tidak membudayakan kekerasan, agar orang Bima dapat bahu membahu menunjukkan citra positif di tengah memburuknya stigma daerah sebagai basis konflik. Ada juga “Korupsi Samangi”, suasana country dan kocak ada pada lagu ini, semacam sindiran halus pada budaya korupsi. Untuk lagu mellow, kita bias merasakan suasana yang berbeda pada lagu “Lingi Sangadji”, yang diciptakan khusus untuk mengenang Bupati Bima 2005 – 2013, Alm. H. Ferry Zulkarnain, ST. Meski album ini belum dijual secara bebas, namun beberapa lagu sudah sering diputar di radio Citra FM, sebagai salah satu radio yang memberi perhatian khusus pada segmen lagu-lagu daerah.