Tuesday, November 27, 2012

STRANGE WORLD I (Episode Bima)

oleh : Subhan Yusuf

... seperti biasa, dikebanyakan malam-malamku aku habiskan untuk mengunjungi beberapa sahabat yang entah mengapa, lebih suka berkumpul dan berbicara tentang hampir segala hal pada malam hari, pretty much nocturnal beings :P.
Dan memang minggu-minggu ini topik metafisik rasa-rasanya lebih mendominasi. Ini terbukti dengan pilihan tempat yang kami pilih sebagai ruang untuk beranjangsana, beradu argumen dan perspektif tentang fenomena.
Kompleks kuburan Raja-raja Bima di Dara, pesanggrahan fitua di Rite dan Tolobali, Kompleks Asi Mbojo adalah tempat favorit kami untuk sekedar bertemu, menikmati kopi, mengiringi perjalanan malam yang kian larut... sampai kami semua berpencar kembali ke jalur pulang masing-masing. Rutinitas ini berlangsung 2-3 kali dalam seminggu. Nothing special actually, tapi jujur, aku banyak mengambil pelajaran dari setiap proses dialektika..., biasa saja. Hingga pada suatu ketika.
...........
..........
..........
malam itu malam Jum'at, setelah menyelesaikan proses pengetikan dan pengeditan naskah Buku Jejak Perjuangan Sultan Muh. Tajul Arifin Sultan Dompu Terakhir, aku ingin benar-benar merasakan udara segar setelah sekian hari kuhabiskan didepan layar monitor dan berkutat dengan tinta-tinta printer di kamar kerjaku.
selintas tergambar dalam pikiranku, sejuknya melewati jalan potong sambinae dengan terpaan angin laut di pusat tanjakannya yang tercampur aroma bahan bakar SPBU Ama Hami, kemudian dinginnya udara malam sepanjang jalur menuju Kafe Jena Mawa... demikian juga dengan hangatnya kopi yang bakalan tersaji.
yah... pikiranku sudah menggambarkan suasana yang mungkin bisa membuat pikiranku lebih segar.
....
...
setelah selesai bercengkerama dengan keluarga, ku packing Netbook-ku, Camera, Handphone, dan tentu saja mengecek persediaan rokok-ku. hmmm, jam 7.30 malam kupacu MX-ku menuju tempat terfavoritku, Cafe Jena Mawa di selatan Depot Pertamina Wadu Mbolo.
kulintasi dengan santai daerah Sadia sampai Sambina'e, mengiris jalan sampai tenangnya Laut Teluk Bima menyapaku dibahu Doro Londa,... sejenak ku berdzikir.. Allahu Akbar,... indah nian alam MU.
....
...
setelah melewati belahan Lawata, roda-roda motorku pun tanpa ragu menyusuri jalan aspal menuju Cafe-ku, Jena Mawa, cafe yang sepi dipinggir pantai, menyajikan berbagai macam hidangan...
setelah memilih tempat, kupesan satu-satunya selera malam-ku, kopi hitam.
....
....
4 jam telah berlalu, tombol keyboard begitu mampu mencuri waktuku di tempat itu, semua lintasa pikiran dan perasaan ku tumpahkan... tersalurkan kebuntuan, suntukpun tercerai.
....
tiba tiba hape-ku bunyi, ada sms masuk... "lg dimana? kita dah di kuburan raja nih"... nomor baru.
tanpa membalas, aku lirik jam tanganku,... 11.30, sejenak aku menggumam, ni anak-anak ga kira-kira, dah malam jum'at, jam segini pula...
setelah membayar kopi dan sebungkus rokok yang kuhabiskan, seringai dan celetukan gadis penjaga cafe tak lagi kugubris " koq ceweknya ga datang-datang om?" (sialan, memangnya selama ini aku pernah berdua-an apa disini?, makiku dalam hati).
....
seperti biasa, kebersamaan tetap menjadi prioritas walaupun ada sedikit rasa enggan mengarahkan roda depanku menuju perbukitan itu.
raungan mesin motorku dibalas rintik hujan lembut merinai malam sepi itu. it's OK, batinku, mungkin pemandangan malam diatas sana mampu lebih menyegarkanku dari rasa penat.
.....
'mari dik', sambil menoleh aku pamitan sama gadis penjaga cafe itu, "hati-hati lo oom jalannya, hujan rintik-rintik soalnya, apa nggak takut ketemu penampakan? balasnya sambil cekikikan, (eh eh eh, sempat-sempatnya dia nakutin aku).. hmm ga apa-apa juga pikirku, mungkin dia hanya mengingatkan aku saja.
"gak lah, aku kan bawa-bawa pestol", sekenanya saja aku jawab. "heheh" celetuknya kemudian yang tak lagi kudengar jelas tersamar suara akselerasi motorku meninggalkan halaman kafe itu,... mulai menapaki jalan pulang beraspal licin tersapu hujan malam yang teramat sepi itu.
....
....
Jam 11.46 aku melewati Depot Pertamina, Rumah Makan Anda diperbukitan selatan Lawata,... sebelum melewati tikungan itu, bawah sadarku seakan memberikan sinyal, hati-hati.
tikungan yang tidak presisi itu aku lewati sekenanya, maklum sepi... kira-kira 15 meter setelah itu, (di sekitar lokasi Rumah Makan Purnama sekarang) dibalik kaca helm-ku ku melihat sesosok perempuan muda memakai celana jeans selutut, berbaju merah, dilehernya melingkar sebentuk syal putih, dengan rambut gelombang sebahu, berdiri rapat persis didepan pagar semak disisi kanan jalan. kuperlambat laju motorku, dia tidak bereaksi, sampai kuputuskan untuk kembali melaju.
....
...
ketika motorku dan dia berada pada posisi hampir sejajar,... sekilas kulihat tangannya bergerak seperti melambai menghentikan laju motorku. ahh, batinku... nyetop koq ga dari tadi, tanggung.
tanpa menoleh dan merespon... kupacu motorku kembali, dibawah remang cahaya bulan kulewati pinggir pantai yang dipenuhi tanaman bakau itu dengan penuh tanda tanya, tuh cewek ngapain malam-malam gini, sendirian lagi.
....
lamunanku buyar oleh terangnya cahaya lampu di sekitar Pom Bensin 24 Jam Ama Hami, kubelokkan motor masuk SPBU itu, melihatku masuk, seorang pegawai yang tadinya tidur memakai sarung bangun untuk melayaniku, "isi penuh ya mas" kataku. dia jawab" dari mana nih", dari Dompu, jawabku sekenanya.
iseng aku tanya " emang disitu tempat mangkal cewek-cewek malam yah", " dimana?" dia menimpali.
" di situ, timur lawata, barat Stockiest Coca-cola?" jelasku. "oh... ga pernah tuh, kalopun ada biasanya di dalam kompleks Lawata.. itupun dulu, sekarang sudah ga ada lagi, pada milih Hotel aja" terangnya.
"oh.. , terus yang tadi mau nyetop saya disitu?" tanyaku.
pegawai itu menarik keluar pispot gasnya dengan tiba-tiba, ekspresinya sangat kaget.." barusan?" dia bertanya dengan nafas memburu. " iya" jawabku singkat.
....
....
12 ribu, dia memberitahukan jumlah premium yang harus aku bayar. akupun tidak lagi bertanya-tanya setelah kulihat ada perubahan ekspresi wajahnya yang tiba-tiba, sepertinya tidak ingin membahas lagi topik yang aku bicarakan sejak tadi.
.... kenapa yah. gumamku.
"terima kasih" kataku. dia hanya mengangguk dengan tatapan penuh misteri.
sejenak kulirik jam, 11.52.
....hmmmm,  gumamanku mengiringi suara motorku yang kembali ke jalan raya menuju Kompleks kuburan Raja-raja Bima, Dana Taraha, dimana teman-temanku biasa menghabiskan tengah malam seperti di malam-malam sebelumnya.
....
...
sejurus kemudian aku melewati persimpangan Ama Hami, melawan arus menyisir kompleks pekuburan Cina di lembah bukit sebelah timur jejeran kafe-kafe yang telah tutup. sejenak pikiranku kembali bimbang, apa teman-temanku masih menunggu di atas bukit sana?
reflek saja kubelokkan motor ke arah timur setelah Terminal Dara aku lewati, serasa sepi memang... mungkin karena dinginnya malam yang tersiram rintik hujan, anak terminal yang biasanya beraktiftas tidak terlihat, mungkin lagi pada tidur bergelung sarung dalam bis yang parkir menunggu pagi, batinku.
...
...
dengan hati-hati kulewati jalan yang becek dan penuh lubang itu menuju tanjakan yang akan membawaku naik ke perbukitan Dana Tahara....
sekilas pikiranku ragu, perasaan takut mulai merasuki logika ku... tapi ternyata genggaman jemariku di stang gas motorku tidak mampu dilawan oleh berkecamuknya berbagai macam pikiran dalam kepalaku... tanpa sadar aku tetap melaju menembus pekatnya malam, menyusuri tanjakan 35 derajat itu tanpa sedikitpun membayangkan apa dan siapa yang menungguku di atas sana ... (BERSAMBUNG)
….
Mantab roda motorku membelah basahan hujan dikulit aspal melaju mendaki tanjakan berbentuk C itu sampai bayangan pohon bidara di sisi kiri puncaknya tersapu cahaya lampu motorku. Sembrono aku belokkan kearah kanan menuju pondokan kios rokok yang tak lagi berpenghuni, persis di kaki tanjakan menuju kompleks pekuburan raja-raja bima.  selain cahaya lampu motorku… hanya kerlap-kerlip lampu antero kota diujung barat, sekitar pelabuhan bima-lah yang menyumbangkan cahaya dimataku. Sejenak pandanganku memutar, timur sama sekali gulita, utara pun sama, hanya sisi barat yang bercahaya… terlihat pucuk musholla tegak menjulang di bagian belakang pemukiman warga… hmmmm.
….
….
Tak ingin aku mengukur bagian selatan, karena tanjakan keatas persis berada dibahu  kananku, didepanku sebenarnya. Hembusan angin halus menerpa untai rambut belakang leherku, Syal Grazie As Roma hadiah dari mentor-ku di Italia sana hampir menjuntai jatuh dari lilitannya yang pelan.
….
Sejenak ku memandang ke atas, mencoba menyerap suara atau pergerakan diatas bukit itu,…. Ahhh, batinku, mana mungkin terdengar sampai di bawah sini? Toh angin bukit pasti menghembuskan suara-suara mereka ke arah laut, ke arah barat. Dengan gelisah kulirik lagi jam Swiss Army di kiriku, 12. 3, tangan kananku meraih front pocket tas netbook-ku yang sedikit basah, kulihat ada 2 missed call di layar O2 Xda-ku, nomor yang sama. … hmmmm, ga percaya amat sih, umpatku dalam hati.
….
….
Tanpa khawatir lagi, aku memacu pelan motorku, 2nd gear, mulai menanjaki aspal basah itu, menuju puncak bukit yang hampir setiap waktu dikunjungi. Pagi bagi yang mau olahraga, siang, bagi yang ingin berkhalwat-ria dengan ketenangan alam, sore, bagi yang ingin “eksis”, bergaya sambil pamer speaker hape, laptop, motor bahkan mobil, sepertiga malam awal bagi pasangan yang tidak ingin direpotkan oleh masalah perhotelan dan Sat Pol PP (hehe), dan sisanya bagi orang-orang seperti kami, ditengah malam buta duduk melingkar berbagi kopi dan rokok, mengamati fenomena malam, membicarakan penampakan peradaban bima, bahasa kawanku yang aktifis, bima kekinian. Aidahhhh, kurang kerjaan kata orang, walau pahit diakui, kami memang lagi mencari pekerjaan… (qiqiqiqiq, intermezo).
….
….
Sinar motorku yang sedari tadi menampakkan aspal, rimbunan semak di kiri kanan, kini tak lagi memantulkan obyek,…, semburat cahayanya menerobos gelapnya langit barat…. hmmm, dah sampai puncak, batinku. Tanpa turun dari motor, sejenak ku menikmati pemandangan malam diarah barat, membelakangi kompleks kuburan raja, tempat dimana kawan-kawanku menunggu. Pemandangan yang sangat tenang, walau rinai hujan membatasi jarak pandangku. Seperti biasa, aku keluarkan senjataku (baca : kamera, hehehe, sok pro nih aku), membidik beberapa scene, untuk memenuhi kegilaanku pada dokumentasi, walaupun pasti hasilnya dah bisa ditebak penuh noise dan blur, but it’s ok, natural toh?… idealisme ku selalu menohok rasio-ku… namanya juga capturing the moment… benakku bersuara. Dengan gaya span shot, 5 sudut pemandangan aku ambil berurutan, … biar photoshop yang akan menyatukan mereka.. kelakarku dalam hati….tanpa bertanya-tanya….tanpa curiga…
….
….
kenapa sepi sekali, kenapa tidak ada suara kawan-kawanku yang biasanya menggoda, bang irul dengan celetukannya“ berani ya datang sendiri”, rafik dengan logat khas-nya “tuh mas hane, telah sampai”. Dan mas irwan, ismet, al imran yang biasa terkekeh-kekeh, hehehehe.
….
….
Rinai hujanpun gak mampu mengalihkan kegilaanku dengan kamera bututku ini.
….
Duarrrrrrr,….
Hampir terjatuh kamera dari tanganku, suara dan kilatan petir mengagetkanku. Refleks kupencet tombol stater motorku, berbalik hendak parkir merapat di dinding luar kompleks kuburan itu,…ditempat biasanya motor kawan-kawanku juga parkir.
Tapi… tapi…
….
Setan, setan setan !! makiku, setelah sambaran cahaya motorku menyapu pelataran didalam kompleks kuburan raja, pelataran dibawah pohon bidara tempat biasanya kami berkumpul itu sepi… kosong.
Dalam balutan parasut hitam dan lilitan syal dipuncak bukit itu perasaanku berkecamuk, marah, kecewa dan tentu saja takut… aku sadar sekarang, sendirian di tengah malam buta, di atas bukit penuh dengan kuburan lama, kuburan dari manusia di abad-abad terdahulu… makam keramat kata orang, walau kami lebih sepakat dengan kata makam leluhur.

… setan setan setan, makiku seakan tak putus dalam hati. Terbayang jelas wajah kawan-kawanku dengan tangan membekap mulut, menahan tawa…. ahh, tunggu saja pembalasanku, an eye for an eye, kutip benakku.
… kesumat di tengah malam buta ini membangkitkan geraman aneh disela-sela gerahamku,.. kuloncati pagar kompleks makam itu tanpa ragu, dengan bekal cahaya theme hape, kududuk menghadap utara, kucoba menghela napas dengan teratur…tapi ternyata nafas tetap memburu,…
Persetan, batinku, aku harus menelpon mereka sekarang juga…kutelepon nomor baru yang mengirimkan sms tadi,.. jelas rekaman suara operator mengatakan jika nomor yang saya tekan salah, ahh dasar kapitalis umpatku, giliran beli pulsa ga ada gangguannya, pas memakai pulsa… ya jaringanlah ya gangguan lah…hmmm.
Kemudian, satu nomor kawan ku search dan dial, irul… sejurus kemudian tersambung: “ tega banget bang, ngerjain saya begini”, buru-buru ku lampiaskan buncahan emosiku, irul dengan nada datar menjawab “ ngerjain bagaimana han?”, “alahhhhh, ya sudahlah, yang sms saya suruh disini siapa coba?” “ dimana?” kejarnya. “ya sudah, sampai ketemu besok saja” pungkasku sebelum mematikan handphone, teriakan irul masih jelas terdengar sebelum komunikasi betul-betul saya putus “oeee dimanaaa…”.
Bukan bulan april koq, seenaknya bikin april mop… ya sudahlah…dengan santai kemudian aku nyalakan sebatang rokok sambil membatin, manalagi pak tua juru kunci makam ini,… biasanya kalo lihat orang masuk kompleks langsung muncul, kadang dari gerbang timur dibawah pohon asam, kadang dari samping kubah makam La Ka’I.
Bodo, dengan skeptis aku bicara sendiri, mungkin dia masuk ke dalam kubah makam itu, menghindari gerimis tadi. Lagian sering kulihat ada bungkus rokok Prinsip yang tersimpan didalam ruangan kubah berpintu teralis itu, tepat diatas pintu kubah.
Sejenak kunikmati suasana tengah malam itu, sebelum sempat ku nyalakan sebatang rokok lagi, ada pesan masuk,.. “dimana sih? Dari sore kita di Al Ma’arif, ada Mapaba PMII, kita semua disini, kita hubungi dari tadi sore hapenya mati mlulu, kalo sempat kesini aja, bawain djarum 16” dari irul rupanya.
… duh skenario apalagi nih, heranku membatin. Yang nyuruh aku kesini siapa, nomor siapa? Kucoba redial nomor baru itu,.. jawaban yang keluar sama. Nomor yang anda putar SALAH !
Kurasakan ada perasaan aneh yang mulai merasukiku…. Thrilling, horror…
Seiring kemudian… samar kurasakan belaian angin lembut menyentuh tengkukku,… reflek bulu kudukku berreaksi… kulilit lagi syal-ku, hmmm, untung gerimis dah berhenti. Sedapat mungkin aku hilangkan semua sumber rasa takutku, sugesti sialan umpatku dalam hati… setan mana yang akan berani muncul dimalam jum’at, malam yang penuh berkah… kelit logika-ku. Kucoba bersihkan pikiranku dari gelapnya sudut mistik dengan logika… tapi, ternyata gak semudah itu… apalagi aku sebatang kara di puncak bukit ini, tengah malam buta.
…. Merinding, segala fenomena alam yang biasa menjadi tidak biasa dalam penerimaan indra-ku, gemerisik hewan malam di semak-semak menjelma menjadi sosok menyeramkan dalam bayanganku… duhhh, malam jum’at malam jum’at, terngiang kata-kata itu, menambah terpuruknya nyaliku.
Ahhh, aku menolak rasa takutku, aku bereskan rokok, korek zippo palsu, hape, masuk ke tas laptopku, kunci motor kuraba masih ada di saku celanaku… hmmm, saatnya turun putusku dalam hati,... selintas kemudian pikiran ga penting muncul, apa benar juru kunci lagi terlelap tidur dalam kubah makam itu? Rasa penasaran harus kupenuhi… katanya berani, sugesti lain muncul dibenakku..
Okeh….allset, akupun melangkah dengan bekal lampu hape, kudekati pintu terlais kubah itu,… kubuka perlahan-lahan,….
…. Sialan, umpatku dalam hati,… ternyata aku benar-benar sendirian disini. Tidak ada juru kunci tua itu di situ.. KOSONG !!!
Tak terkendali lagi, aku tergesa keluar meloncati pagar kompleks kuburan itu,… kikuk ku cari lobang kunci stater motorku...tanpa noleh kiri kanan, kupacu menuruni bukit itu dengan segala perasaan horror mengikuti dibelakangku… sumpah tak berani aku menoleh sedikitpun apalagi berpaling pandang ke arah belakang….. GILA.
….
agak tenang perasaanku setelah melewati tikungan jalan turun yang melingkar itu untuk kemudian bertemu dengan jalan besar yang menghubungkan jalan baru ke terminal dara itu,… remang ku lihat warung tempatku berdiri sejenak sebelum naik ke kompleks kuburan…, tetap sunyi.
….
Sesaat sebelum belok kiri kearah terminal,… sorot lampu motorku mengenai sesosok manusia, berambut panjang, berdiri dibawah pohon seberang jalan, jelas lampu hologram motorku menangkap seringai aneh disudut bibirnya yang pasi, tatapannya menghujam kearahku, tatapan pucat dengan aroma dendam… aku mati, mati langkah, mati otak (intermezo: untung gak mati gaya, hehehe)…
….
5 meter, hanya lima meter jarak diantara aku dan wanita itu, tanpa bergeming sedikitpun, tatapan kami beradu… dengan gigi geraham yang beradu kuat, aku meyakinkan diri… apapun yang terjadi aku tidak mau tunduk dalam tatapannya..., sel otakku yang lain kemudian mengabarkan… dari ciri-ciri pakaiannya dia adalah wanita yang sama dengan yang menampakkan diri di timur tikungan Lawata sebelumnya… dan hal ini justru membangkitkan rasa penasaranku…. Hampir saja mulutku pecah, ingin mengeluarkan pertanyaan ….” kenapa !, tapi yakinku, dia mengetahui isi benakku….

Karena itu, aku tidak ingin lemah dan takut dihadapannya…. Dalam hati kuulang-ulang kalimat dalam bahasa bima “wajom disas, wajom disas, wajom disas, e nahu manusia bote (artinya: eh saya manusia, monyet ! bukan dibaca saya manusia kera, hehhe)… dengan harapan kekuatan nyaliku terbaca oleh sosok yang sama sekali tak bergeming itu.
Pelan-pelan, kunetralkan gear motor, tanpa mengalihkan arah pandangan dan fokus tatapanku padanya, kuraba pelan saku depan tas leptopku, kuraih Nokia 3500c bututku, dengan tiga kali menekan shortcut tombol yang sudah kuhafal diluar kepala….. keheningan malam itupun pecah dengan rentak alunan musik dari hapeku.. yah, aku memang ingin memainkan audio player  di hapeku dengan harapan lantunan ayat Al-Qur’an dari Qori cilik Ahmad Saud – lah yang terputar…., tapi apa yang terjadi….rancak musik pembuka yang terputar membuatku kaget,...
Alejandro-nya Lady Gaga memecah keheningan malam….
(Bersambung)
Ale alejandro
I know that we are young
and I know that you may love me but I just can't be with you like this anymore

 desahan opening lagu yang memberi selaksa makna bagiku, dihadapan pemilik tatapan itu yang seakan-akan memahami makna liriknya… aku tertegun bisu mencoba menahan fokus… walau gamang, namun selintas otakku teringat perpaduan karakter tiga tokoh utama dalam satu episode kronik pertarungan imperium Jepang lama ,Taiko,.. ketegasan Ode nobunaga, kearifan Taiko dan ketinggian pemahaman Tokugawa Iesu…, jika aku memilih mengikuti cara nobunaga, sudah pasti aku tabrak perempuan itu sebisanya.. aku lawan, aku tantang… seandainya aku pilih cara Taiko, pastilah aku akan membaca semua ajian pragmatis yang pernah kudapat, kemudian permisi dan menyingkir pelan-pelan, tak ingin saling mengganggu eksistensi masing-masing,… tapi entah kenapa cara Tokugawa-lah yang kurasa pas dan sesuai dengan karakter-ku… yah tokugawa yang selalu tidak ingin memulai aksi ataupun sembarang menunjukkan reaksi, diringi musik yang terus menyeruak keheningan itu.. aku putuskan menunggu… siapa yang berbuat apa dan bagaimana…
sampai pada lady gaga menyanyikan lirik yang entah mengapa serasa mengaitkan keberadaan aku dan sosok wanita itu, sepanjang malam ini…
She's got both hands in her pocket and she won't look at you, won’t look at you
she hides true love en su bolsillo she's got a halo around her finger around you
Hmmm, gigi geraham-ku gemeretak,… pandanganku mulai nanar, perih bola mataku tak terbasahi oleh kelopak puluhan detik lamanya,.. bertahanku untuk tidak mengedipkan kedua mataku bersamaan… aku ingat pak SBY dengan politik jalan tengah-nya,…kalau tidak bisa mengedipkan mata secara bersamaan, oke-lah demi basahnya bola mataku, demi terjaganya fokus pandanganku, akhirnya dengan penuh karakter, aku pun mulai mengedipkan mataku bergantian.. kiri-kiri-kiri kemudian kanan-kanan-kanan… (mudah-mudah sosok wanita itu tidak salah mengartikannya : intermezo).
….
….
Don’t call my name, don’t call my name alejandro
I’m not your babe, I’m not your babe…ferr (jedddaarrrrr)
….
Kilatan cahaya petir tidak hanya mengakhiri konsentrasi-ku, … tapi juga membuatku hampir jatuh dari motor… kaget tiada tara, hape ditangan terpelanting jatuh, casing, baterai nya tercerai tercecer…..kumerunduk mencoba menggapai.. tapi sia-sia…(tanpa sadar, aku telah melepaskan kontak mata dengan wanita itu)…
Seperti prajurit yang kalah perang, aku merasa pastilah dia sudah ada dibelakangku…. Atau di depanku,… aku mahfum dengan situasi ini… aku ingat nasehat orang tua-tua dahulu,… ain wentom (jangan kagetan)… dengan pasrah aku mengangkat kembali kepalaku..dengan sorot mata penuh kewaspadaan… karena dia bisa saja muncul dimanapun yang ia mau….
…….

…….
Pandanganku mencari-cari… sekitar, kemudian ke arah dimana dia berdiri, gelap. kuluruskan kembali head motorku ke arah itu, kosong !!
Hmm, dia sudah menghilang rupanya….
………….
Aku mengucapkan istighfar sedalam-dalamnya, se khusu’ yang ku bisa….
Batinku mencoba berdagang dengan Yang Kuasa… plisss… enough for tonite !
I couldn’t take this strange nite anymore….
……..
Tanpa ba-bi-bu lagi… benakku mengajak pikiranku untuk menuju tempat untuk sekedar mengembalikan my own sanity… back to civilization…
Rasa-rasanya sulit nalarku untuk merasionalkan fenomena malam ini….
Kulirik jam, 1.47…
Hmmm, ….Warung Pojok
(BERSAMBUNG)
 Kali ini kupacu motorku tanpa ragu,… pulang, pulang pulang, benakku teriak. Turunan menuju Dara itu tak berasa diujung muaian ban motorku yang mulai dingin, ringkih…, lobang jalanan sempit itupun tak lagi kugubris… gila, celetukku mengingat semua yang telah kualami di malam aneh ini, tatapan pasi wanita itu masih terbayang jelas di sudut mata,… qi serra serra… whatever will be will be,… sebaris lirik dari ABBA cukup membantu rasa apriori-ku pada suasana malam ini.. oh lord.
….
Kelewati dengan cepat sisi utara terminal, mengejar semburat cahaya di jembatan Padolo yang tebingnya kian hari kian rapuh tak mampu menanggung beban dipinggir bahunya,.. perempatan “lampu merah” seenaknya ku terobos, belok kanan di bypass yang menuju pelabuhan bima, ke timur memasuki area sepi sekitar Asi Mbojo, disitu berjejer warung-warung kopi 24 jam… mampir dulu, segelas kopi cukup, batinku, sebelum menempuh rute kembali ke rumah.
….
….
Eh rupanya kawan2ku dah komplit ada disitu… ketawa-ketawa tanpa menjawab salamku, hmmm saatnya mencari tahu tentang apa sebenarnya yang terjadi.
Ei bos-bos, yang punya nomor ini siapa? Tunjukku pada sms yang aku terima, wah kita tidak tahu, enteng jawab mereka. Okelah, let it flow to the sea, simpul hatiku.
….
Chit-chat ga penting pun mengisi menit-menit selanjutnya, pilkada bima ibarat sinetron stripping-lah,… mutasi pejabat sampai juru pungut yang tidak capability-priority-lah, bla bla bla…
I just use my ears,… my words locked inside, hanya mendengarkan, sesekali nodding and…iya iya iya…
….coffe spot politician they said, ga apa-apalah bathinku…, everybody needs a bossom for a pillow, lirik lagu cornershop, menguatkan pandanganku.
Tanpa kusadari, fenomena malam ini telah tertutupi oleh dinamika politik bima kekinian, aktual politics top surfaces…. Hmmmm.
Secara biologis, mindset ku melakukan self-refreshing.. sampai aku putuskan untuk segera berdamai dengan bantal dan gulingku yang tetap setia menjadi sandaran beban, penat, resah, gelisah (cieeee, ini cerita apaan sih?).
….
2.05, jarum teladan di pergelangan tangan kiri-ku tanpa henti-hentinya menunjukkan statusnya,…. Adios amigos, akupun permisi pulang.
….santai kulewati jalur-jalur aspal basah itu menuju ruas jalan utama kota bima, utara Asi Mbojo belok kanan didepan Masjid raya yang masih belum selesai konstruksi-nya, kata obama, still under construction (huhuhu)…... lurus, belok kiri mengakrabi jalan soetta yang sepi tengah malam itu.
Nothing special sepanjang jalur jalan itu, sampai kembali lagi kulihatt sesosok wanita yang berdiri di pojok timur pertigaan Pane, dalam jarak 20 meter kuamati sembari kupelankan laju motorku… semakin dekat semakin nyata, salah satu tangannya memegang sesuatu…. Sepintas ingatanku mengabarkan jika wanita itu adalah wanita biasa…. Tidak seperti sosok misterius yang menjengkelkan yang kutemui sebelumnya di lawata dan di doro raja…, hmmm, semakin ku dekap dia pun mulai menyeberang pertigaan itu menuju pojok barat, timur Johan Photo… aku melirik mata wanita yang jalan pelan sambil menunduk itu… tak membalas tatapanku… hmmmm, hampir sejajar, akupun menyimpulkan, mungkin dia lagi dari toko sebelah barat hotel perewa itu…tapi, aku pun kembali terhentak…
Sekilas kulihat dia menoleh kearahku… spontan akupun menoleh ke kanan, tajam, karena kami hampir sejajar… sampai sekarangpun masih teringat jelas tatapan matanya…dua matanya tajam mengangetkanku.. MERAH MENYALA !
….
….
Dugg, jantungku menghentak keras, membangunkan kesadaranku atas penglihatan itu..., ku pacu kencang motorku, ke arah timur……pulaaaaaaang….tanpa berani berpikir apa-apa lagi,….

….tanpa berani berpikir apa-apa lagi…

(terpaksa) TAMAT

 Catatan:

(untuk sosok yang telah mencoba mengakrabiku malam itu,… enough is enough, jangan marah jika pesan2 mu tidak tersurat dalam cerita ini, cukuplah tersirat)